Organisasi

Demostrasi dan Pergerakan FKSMJ

Satu bulan setelah pendirian organisasi ini, pada 17 April 1996 melakukan aksi demonstrasi menolak kenaikan tarif angkutan umum di Departemen Perhubungan Jakarta yang kemudian meluas ke wilayah Indonesia lainnya yang berakhir bentrokan dengan aparat keamanan, menimbulkan korban dipihak mahasiswa dan rakyat di Ujung Pandang.

Peristiwa ini kemudian disikapi mahasiswa dengan berkabung nasional dan melakukan aksi mimbar bebas di seluruh kampus di Indonesia. Aktivitas parlemen jalanan yang dilakukan FKSMJ ini dengan dukungan dari univeristas-universitas lainnya menguat cepat di seluruh Jakarta, dukungan tersebut kemudian muncul antara lain dari Senat Mahasiswa Universitas Indonesia (masa kepengurusan Kamarudin), meskipun pada awalnya SM UI ini tidak ikut terlibat dalam pergerakan pembentukan organisasi ini termasuk aksi-aksi politiknya. Rapat-rapat politik FKSMJ semakin intensif terjadi usai aksi tolak kenaikan tarif angkutan.

Gerakan FKSMJ kemudian terlihat kembali menjelang peristiwa 27 Juli 1996 yang pada saat itu para aktivisnya ikut terlibat dalam mimbar bebas di kantor PDI yang kemudian berakhir rusuh.

Gerakan protes FKSMJ ini di penghujung tahun 1997 makin menguat ketika melakukan aksi politik demonstrasi pada 26 Desember 1997 di gedung DPR/MPR untuk menolak pencalonan kembali Soeharto sebagai Presiden, aksi ini dilakukan bersama FKMIJ, FKMP, FAAR, dan Alarm-Aldera. Demontrasi ini sempat dikepung sejumlah panser militer yang berjaga-jaga di gedung DPR/MPR.

Protes FKSMJ juga dilakukan terhadap Mendikbud dengan memprotes agar Kepmendikbud No 0457/U/1990 dicabut, ini terjadi pada periode tahun 1997 yang sempat memunculkan nama Saifullah (Universitas Mustopo), Agus Supriyatna (IKIP Jakarta)dan Selamat Nurdin (UI).

Gerakan 1998

Pada perjalanannya kemudian pada tahun 1998 muncul aktivis-aktivis FKSMJ seperti Sarbini (Universitas 17 Agustus), Irwan (Universitas Mustopo), Dodi Ilham, Sayed Junaidi Rizaldi/Pakcik (UPN Veteran Jakarta), Henry Basel, Ubedillah (IKIP/UNJ).

Pertemuan-pertemuan antara generasi baru FKSMJ dengan generasi awal FKSMJ, termasuk dengan aktifis FKMIJ (Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Jakarta) seperti Ahmad Wakil Kamal dan Mulyadi serta dengan sejumlah elemen mahasiswa Bandung, Yogya antara lain KM ITB, FIM-B,Unisba,P3Y,PC HMI Yogya, Ismahi, berjalan makin intensif hingga kemudian menduduki Gedung DPR/MPRhari Senin 17 Mei 1998, sebagai simbol perlawanan rakyat menghendaki turunnya Soeharto, penanggung jawab dalam Gedung DPR/MPR adalah Sarbini, sementara di luar gedung untuk mengatur jalur evakuasi, keselamatan kawan-kawan di dalam gedung, mengatur distribusi logistik, dan persiapan penggalangan massa mahasisawa untuk turun hari Selasa 19 Mei 1998, menjadi tanggung jawab Pakcik ( Sayed Junaidi Rizaldi , untuk Posko dipakai Kampus Univ. Moestopo karena jarak yang dekat dengan gedung DPR/MPR. publikasi adalah tanggung jawab : Simon ( Univ.Moestopo)

Pendudukan gedung DPR/MPR ini terjadi pada tanggal 18-23 Mei 1998. FKSMJ menjadi aktor penting dalam pendudukan gedung DPR/MPR ini bersama Forum Kota, sebuah organisai mahasiswa jabotabek yang lahir dari aktifis diluar senat mahasiswa. Selain Forkot kemudian nampak juga HMI MPO yang juga membawa massa ribuan mahasiswa. Hari kedua pendudukan kemudian diikuti oleh ratusan ribu mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi Jakarta, Bandung, dan universitas lainya.

Saat aksi pendudukan gedung DPR/MPR ini Soeharto berhenti dari jabatannya sebagai Presiden pada 21 Mei1998.

FKSMJ kemudian mengusung gagasannya tentang perlunya Dewan Presidium Nasional sebagai representasi pemerintahan transisional, sementara Forkot menghendaki dibentuknya Komite Rakyat Indonesia (KRI)yang juga sebagai pemerintahan transisional, hingga kemudian kedua organisasi ini berbeda haluan.

Aksi-aksi FKSMJ usai keluar dari DPR masih terus berlanjut bersama elemen mahasiswa lainnya, antara lain aksinya menolak Sidang Istimewa MPR 1998 pada 23 Oktober dan 10-13 November 1998 dan upayanya “menculik” Amien RaisAbdurrahman WahidMegawati, Sultan Hamenku Buwono X, untuk memimpin perubahan dan penolakan Sidang Istimewa. Namun Keempat tokoh ini menolak perubahan menyeluruh dan kemudian menghasilkan [[Deklarasi Ciganjur], karena draft usulan FKSMJ, KM ITB dan Unsil dirubah sebagian besarnya, akhirnya ketiga kekuatan mahasiswa ini bertekad turun ke jalan dengan tujuan Sidang Istimewa dengan membentuk presidium nasional. Sementara elemen-elemen mahasiswa lainnya juga bergerak menuju gedung DPR/MPR yang berakhir dengan [[Tragedi Semanggi 1 ] di depan kampus Univ.Atmajaya.

Aktifis FKSMJ yang mencuat pada saat ini antara lain adalah Sarbini (Univ.17 Agustus)dan Indra P( Univ.Yarsi)keduanya kini aktif di Partai Demokrat, Nuryaman Berry Hariyanto (Univ.17 Agustus)sempat Caleg DPR RI dari PKB pada pemilu 2009, Dodi Ilham (UPN “Veteran” Jakarta) pernah mencalonkan Komisioner KOMNAS HAM 2012-2017 dan sekarang aktif di Partai baru Peserta Pemilu 2014– Partai Nasdem, Irwan (Univ.Mustopo) dan Dandy- Kusumohartono (STIE Perbanas),Lutfi Nasution ( Univ.Jakarta) aktif di PAN, Sayed Junaidi Rizaldi atau dikenal dengan nama lain Pakcik aktif sebagai Ketua DPD Partai Hati Nurani Rakyat Provinsi Riau ( hingga saat ini satu-satunya Aktifis 98 yang menjadi Ketua Partai pada Tingkat Provinsi dengan partai yang lolos parlement treshold 2009 ), pilihan mereka adalah untuk meneruskan cita-cita perjuangan rakyat dan kawan-kawan yang telah berjuang dengan darah dan airmata, agar agenda Reformasi yang pernah diperjuangkan dapat terwujud.

Aksi-aksi FKSMJ masih berlanjut hingga menjelang Pemilu 1999 dengan menduduki kantor KPU pada 25 Juli 1999, pendudukan gedung Kejaksaan Agung yang dijabat Andi Galib, sebagai bentuk protes atas mandegnya Reformasi Total.

Aksi-aksi FKSMJ selanjutnya dilakukan antara lain bersama HMI MPO untuk menolak pemilu 1999 dan menghendaki bubarnya Golkar. Pada perjalanannya kemudian era senat mahasiswa berakhir dengan berlakunya SK Mendikbud Nomor 155/U/1998 tentang organisasi kemahasiswaan yang kemudian melahirkan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) di hampir semua perguruan Tinggi.

Setelah 1998

Berakhirnya era senat mahasiswa tidak menjadikan FKSMJ mengubah nama organ gerakannya, karena FKSMJ merupakan alat perjuangan, bukan organisasi kemahasiswaan.

Berjalannya waktu menjadikan kampus-kampus yang menjadi bagian FKSMJ kembali melakukan konsolidasi di kampus masing-masing. Maka selanjutnya terbentuklan KAM – Jakarta atau Komite Aksi Mahasiswa Jakarta yang merupakan organ mahasiswa yang lahir setelah Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta (FKSMJ) tidak lagi aktif. Dalam perjalanan selanjutnya pimpinan kolektif KAM Jakarta beralih kepada generasi yang lebih muda dari aktivis FKSMJ.

Karena sifatnya yang kolektif, kepemimpinan KAM Jakarta merupakan kepemimpinan bersama dari beberapa simpul kampus yang sebagian besar berlokasi di Jakarta Selatan. Kampus-kampus yang tercatat sebagai bagian dari KAM Jakarta adalah Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), USNI, Universitas Mercu Buana, Universitas 17 Agustus, UPN Veteran, Universitas Budi Luhur, Universitas ABA-ABI, STMIK JAKARTA/STI&K dan beberapa kampus lainnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top